< <
5 / total: 10

KESALAHAN TENTANG KECERDASAN MANUSIA DARI DISCOVERY CHANNEL

Dokumenter, Evolution: The Mind's Big Bang (Evolusi: Ledakan Dahsyat Pemikiran), yang ditayangkan di Discovery Channel, menampilkan sejumlah klaim Darwinis dalam hal kecerdasan dan kebudayaan manusia. Discovery Channel memberikan ruang yang sangat luas bagi pendukung fanatik ilmuwan-ilmuwan tanpa keji seperti Steven Pinker dan Richard Dawkins. Tulisan ini membahas pandangan-pandangan Darwinis dan menunjukkan penyimpangan-penyimpangan di baliknya.

Identitas Sosial Manusia Tidak Tumbuh dari Proses Evolusi

Pada awal dokumenter ini disampaikan tentang penemuan hiasan-hiasan dan kalung-kalung yang berasal dari 50.000 tahun yang lalu. Kemudian diberikan kesan seolah-olah saat itu terjadi apa yang disebut dengan nama ledakan evolusi kebudayan, dan berbagai perhisan itu diajukan untuk membuktikan hal ini. Barang-barang ini adalah milik ras manusia Cro Magnon. Disebutkan dalam Discovery Channel bahwa perhiasan-perhiasan ini diduga milik seoran wanita Cro Magnon yang sedang hamil dan telah digunakan untuk mengirim berita pada orang lain. Setelah menjelaskan bahwa tingkah laku ini merupakan tanda identitas sosial, dikatakan juga bahwa orang-orang ini menjalin hubungan kemasyarakatan yang tidak ada di alam.

Klaim tentang perhiasan-perhiasan ini berubah-ubah, karena perhiasan ini bukanlah indikasi identitas sosial yang “tidak tergantikan”. Identitas sosial yang ditunjukkan dengan perhiasan-perhiasan ini biasa saja telah ditunjukkan oleh orang-orang yang hidup lebih awal dalam bentuk lain, atau bahkan dengan cara lain yang tidak menggunakan barang sama sekali (dengan isyarat, misalnya). Maka, pendapat bahwa kita dapat melihat sebuah perhiasan dan menarik kesimpulan bahwa identitas sosial yang semula tidak ada terbentuk pada bersamaan dengan perhiasan itu, sama sekali tidak berdasar.

Manusia Neanderthal adalah Manusia yang Sesungguhnya

Sejumlah sifat anatomis dan budaya manusia Neanderthal disimpangkan oleh Discovery Channel. Penyimpangan ini bahkan dapat dilihat dalam penerjemahan kata Neanderthal. Manusia Neanderthal disebutkan dalam dokumenter sebagai “manusia primitif zaman batu”. Namun kenyataannya arti Neanderthal tidak seperti itu. Nama ras manusia ini berasal dari lembah Neander dekat kota Dusseldorf di Jerman (Manusia ini pertama kali ditemukan oleh seorang penambang yang bekerja dalam sebuah gua di lembah tersebut tahun 1856.)

Dalam dokumenter ini, manusia Neanderthal digambarkan memiliki tubuh kuat, dengan dahi miring dan sempit, yang kemudian diikuti dengan spekulasi mengenai kemampuan seninya. Kita diberitahu bahwa ia tidak meninggalkan gambar-gambar di gua di mana ia hidup, dan diperkirakan ia “tidak meninggalkan jejak kehidupan simbolisnya”. Acara ini kemudian mengatakan bahwa, di sisi lain, manusia modern menganggap seni sangat penting dan sangat mempedulikannya.

Apa yang muncul dari perbandingan anatomis dan artistic antara manusia modern dan Neanderthal ini bukanlah keunggulan evolusi. Kenyataan bahwa Neanderthal memiliki tubuh kuat dan dahi sempit tidak cukup untuk menunjukkan bahwa mereka spesies primitif. Misalnya, kita tidak berkesimpulan bahwa penduduk Eropa Utara lebih kasar dan lebih primitif daripada orang Cina atau pigmi yang lebih kecil. Ini disebabkan karena struktur tulang dan rangka bukanlah salah satu syarat untuk menilai tingkah laku dan kecerdasan.

Di sisi lain, jika sifat anatomis dianggap sebagai sebuah syarat, maka menurut logika evolusi, Neanderthal semestinya dianggap lebih cerdas daripada manusia modern, karena evolusionis mengukur kecerdasan manusia berdasarkan ukuran otak. Volume otak manusia Neanderthal sekitar 13% lebih besar daripada rekannya yang modern.

Tidak adanya gambar-gambar Neanderthal yang tertinggal saat ini juga bukan indikasi mereka primitif. Ada masyarakat-masyarakat modern yang hanya memiliki sedikit minat pada seni atau lukisan. Jika melihat pada tidak adanya kesenian yang mewakili mereka, yang dapat dikatakan hanyalah “mereka terbelakang dalam bidang seni”. Menggambarkan mereka sebagai spesies peralihan yang primitif hanya karena mereka tidak membuat gambar tidak lebih dari sebuah prasangka.

Kenyataan bahwa mereka tidak membuat gambar-gambar tidak cukup untuk menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki sedikit minat seni. Sebuah seruling yang digali dari sebuah gua Neanderthal di Slovenia menunjukkan bahwa mereka memiliki kebudayaan musik. Seruling ini adalah alat musik tertua yang dikenal. Seruling yang terbuat dari tulang beruang ini dapat menghasilkan not karena adanya empat lubang yang dibuat khusus untuk itu. Tidak diragukan lagi bahwa membuat seruling dan menghasilkan nada hanya mungkin dilakukan dengan adanya konsep abstrak. Tidak ada alasan untuk tidak menganggap mereka yang memahami musik dan menghasilkan nada, juga menghibur diri dengan menari.

Selain itu, telah ditunjukkan juga bahwa Neanderthal merawat rekan mereka yang sakit dan terluka, dan memakamkan mereka dengan bunga. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk social, yang memiliki konsep cinta dan kasih sayang. Mempertahankan pendapat bahwa Neanderthal primitif dan berada pada tingkat evolusi yang lebih rendah dari manusia modern, adalah tidak lebih dari prasangka Discovery Channel sendiri.

Kebingungan Tentang Materialisme Yang Disembunyikan oleh Steven Pinker

Discovery Channel juga melaporkan kesalahan-kesalahan tentang asal-usul tingkah laku manusia yang dilakukan oleh Steven Pinker, seorang psikolog dari Massachusetts Institute of Technology, seolah-olah itu benar. Pinker menyampaikan pendapat di bawah ini:

Pengendalian tingkah laku yang sesungguhnya berlangsung pada level sel-sel syaraf dan penghubung-penghubungnya, dan kita memiliki seratus milyar sel syaraf dan mungkin seratus trilyun penghubung. Mengagumkan sekali membayangkan bagaimana semuanya tersusun dalam kepala seorang bayi. Evolusi kita banyak terdiri dari bukan saja menambahkan, tetapi juga menghubungkannya dengan cara yang tepat untuk mendukung kecerdasan.1

Sebagaimana Pinker menjelaskan, struktur otak manusia sangat rumit. Bahkan dalam majalah ilmiah digambarkan sebagai “yang paling rumit di alam semesta”. Lebih jauh lagi, rancangan dan kemampuan pengolahan dalam otak manusia bahkan digunakan sebagai model bagi para ahli komputer. Dr. Kerry Bernstein, seorang teknokrat senior dari perusahaan terkemuka IBM, mengatakan dalam sebuah laporan interview berjudul "Brain Teaches Computers a Lesson" (“Otak Memberi Pelajaran Pada Komputer”) yang diterbitkan di MSNBC.com, bahwa ia menyelenggarakan konferensi tahuan berkala yang dihadiri oleh ahli-ahli neurology di kantor pusat IBM untuk memberikan informasi pada para insinyurnya mengenai rancangan otak manusia. Bernstein mengatakan bahwa pengoperasian otak tidak dapat ditiru sepenuhnya. Otak beroperasi pada kecepatan kurang lebih 12 kilohertz—sama dengan 12.000 putaran per detik—dan menggunakan sebagian energi yang dibutuhkan komputer, kata Bernstein. Ini membuat otak berkali lipat lebih efisien daripada komputer tercepat, katanya "alasannya adalah karena sesuatu yang tidak dapat kami lakukan dalam elektronik." Bernstein berkata. "yaitu notion of massive parallelism (gelombang parallelisme besar-besaran. [Paralellisme=pengiriman bit-bit data secara bersamaan ke jalur-jalur data/dataline yang berbeda–Chambers Science and Technology Dictionary -Pent.])." Artinya satu bit data dapat menyebar ke 100.000 neuron lainnya, katanya.2

Sebagaimana rancangan hebat ini, fungsi otak juga paling produktif. Martin S. Banks, seorang professor optometri dan psikologi di Universitas California Berkeley, mengatakan, "Otak itu efisien, yaitu tidak menghabiskan energi untuk menyimpan informasi yang tidak dibutuhkan dalam kehidupan."3

Sebagaimana kita ketahui, terdapat rancangan yang luar biasa pada susunan dan fungsi otak. Meskipun demikian, Pinker dan Darwinis lainnya, berpendapat bahwa keteraturan pada otak ini terjadi karena mutasi kebetulan. Mereka mengatakan bahwa atom-atom tanpa kemampuan berfikir membentuk rancangan luar biasa dalam otak manusia semata-mata akibat “proses evolusi” panjang yang terjadi secara kebetulan. Klaim ini tidak memiliki dasar ilmiah dan tidak beralasan. Penelitian genetika menunjukkan bahwa tidak pernah ada mutasi yang menambahkan informasi ke dalam gen, dan sekalipun terjadi ada efeknya, selalu merugikan bagi organisme itu. Tidak satu mutasi buatan pun yang dilakukan di laboratorium telah menghasilkan keuntungan bagi makhluk hidup. Embrio yang mengalami mutasi terlahir mati atau cacat. Jelas bahwa mutasi tidak akan pernah membawa “keteraturan” bagi otak. Hal ini sama tidak mungkinnya dangan mengubah kalkulator elektronis menjadi komputer canggih dengan cara memukulnya dengan palu.

Pernyataan bahwa tingkah laku berhubungan dengan sel-sel syaraf dan penghubung-penghubungnya adalah sebuah dogma. Keterlibatan neuron dalam tingkah laku telah disadari di otak, namun tidak ada penjelasan yang diberikan tentang aktivitas neuron yang berubah menjadi kesadaran, yang merupakan sumber segala tingkah laku, bagi otak.

Tingkah laku terdiri dari pilihan-pilihan tindakan yang diambil manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya atau untuk mengadaptasikan lingkungan dengan dirinya. Tingkah laku bergantung pada pengetahuannya, dengan kata lain kesadarannya, akan lingkungan. Namun, kesadaran merupakan salah satu kesulitan besar yang dihadapi materialisme, karena kesadaran tidak pernah dibuktikan dalam bentuk materi: tidak ada petunjuk yang pernah ditemukan di mana kesadaran berada dalam otak dan bagaimana ia muncul. Pertanyaan mengenai bagaimana kesadaran muncul pada manusia, yang merupakan sekumpulan sel, masih merupakan misteri bagi kaum materialis. Percobaan pengamatan otak dan teori-teori yang diajukan semua telah gagal menjelaskan tentang kesadaran. Colin McGinn, penulis buku The Problem of Consciousness (Masalah Kesadaran) mengakui kegagalan ini dalam pernyataannya:

Kami telah lama mencoba mengungkap masalah hubungan pikiran dan tubuh (mind-body problem). Tapi usaha keras kami belum berhasil. Misterinya masih tetap ada. Saya rasa waktu telah membuktikan bahwa kami tidak dapat membongkar misteri ini.4

Semuanya ini mengungkapkan bahwa tingkah laku tidak dibatasi oleh sel-sel otak. Steven Pinker sebenarnya sungguh-sungguh menyadari kesulitan yang ditimbulkan oleh kesadaran bagi materialisme. Dengan menggunakan hubungan antara sel-sel otak sebagai landasan tingkah laku, ia mencoba menutupi kesulitan yang dihadapi materialisme ini, bukan menawarkan penjelasan yang sesuai.

Tingkah Laku Yang Bertujuan Mempertahankan Posisi Sosial Bukan Bukti Evolusi

Menggunakan beberapa sisi tingkah laku simpanse sebagai model, Discovery Channel mencoba untuk menunjukkan hubungan mereka dengan manusia. Dokumenter ini menjelaskan bagaimana seekor simpanse mencoba berteman dengan simpanse lain dengan mempengaruhinya, bagaimana ia menyerang hewan lain yang mengganggu komunitasnya, sehingga menyampaikan pesan bahwa “musuh temanku adalah musuhku”. Namun, contoh ini merupakan perbandingan berdasarkan prasangka belaka; kesamaan antara kita dengan simpanse adalah, kita memahami arti komunikasi dan ini dapat membahayakan posisi sosial kita.

Kenyataan bahwa manusia dan simpanse menunjukkan persamaan tingkah laku tidak dapat diajukan sebagai bukti hubungan evolusi antara keduanya. Pertunjukan kekuatan seperti ini dapat juga dilihat pada hewan lain. Gajah misalnya, tidak membolehkan gajah lain measuki daerah yang menjadi wilayah kawanannya. Dan, gajah yang memenangkan pertarungan untuk menjadi pemimpin kawanan diakui sebagain pemimpin baru oleh anggota masyarakat lainnya. Dengan kata lain, sebagaimana halnya simpanse, banyak makhluk hidup lainnya yang dapat mengirim pesan ke anggota kawanan lain untuk mempertahankan posisi sosial mereka. Namun, kenyataan bahwa gajah seperti manusia, menganggap penting posisi sosial mereka, tentu saja tidak berarti keduanya memiliki hubungan evolusi.

Discovery Channel juga terlibat dengan propaganda Darwinis dengan menyatakan dalam narasi yang menyertai gambaran sekelompok simpanse, bahwa manusia berpisah dari simpanse sekitar 6 juta tahun yang lalu dan berevolusi sebagai cabang primata tersendiri. Namun, kenyataannya, sebagaimana halnya spesies lain di alam, manusia dan simpanse adalah makhluk yang benar-benar berbeda. Pernyataan bahwa mereka berpisah satu sama lain 6 jta tahun yang lalu melalui proses evolusi tidak memiliki dasar ilmiah, dan hanya merupakan asumsi Darwinis. Bukti ilmiah telah mengungkapkan bahwa pentingnya fosil yang diajukan sebagai bukti skenario ini telah diselewengkan. Fosil-fosil ini bukanlah spesies peralihan, namun peninggalan ras manusia yang telah punah atau spesies kera. (Untuk runtuhnya skenario evolusi manusia, lihat Harun Yahya, The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 2003.)

Prasangka Darwinis Discovery Channel Tentang Bahasa

Dokumenter ini juga berisi spekulasi mengenai asal-usul bahasa yang seluruhnya berdasar pada khayalan dan prasangka. Keuntungan sosial yang didapat manusia dari bahasa dilukiskan sebagai keuntungan individu dari proses evolusi. Pernyataan ini kemudian dibuat sehingga mereka yang secara sosial paling kuat mungkin telah dipilih dalam apa yang dikenal sebagai proses evolusi.

Discovery Channel tidak dapat menawarkan bukti ilmiah untuk pernyataan ini, dan memperlakukannya seperti sebuah dongeng. Mereka menggunakan kemampuan bicara manusia dan menempelkannya pada seleksi alam, sebuah gagasan klasik dalam inti teori evolusi. Tidak perlu diragukan lagi bahwa secara sepihak menempatkan serangkaian khayalan tanpa dasar ilmiah seolah-olah hal-hal tersbut merupakan fakta ilmah bukanlah sebuah pendekatan ilmiah.

Bahasa, yang memungkinkan manusia berpikir dan berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang sempurna, adalah sebuah kemampuan menakjubkan yang hanya dimiliki manusia. Semua manusia memiliki kemampuan mempelajari bahasa sejak mereka lahir. Seorang bayi di manapun di dunia ini dapat mempelajari bahasa apapun yang digunakan di manapun di dunia.

Secara struktural, bahasa bergantung pada peraturn-peraturan tata bahasa dan penyusunan kalimat. Pernyataan yang terdiri dari dua atau tiga kata mungkin terlihat sebagai sesuatu yang agak sederhana. Namun, untuk menghasilkannya, seseorang harus melakukan berbagai proses yang sangat rumit dalam waktu yang sangat singkat. Konsep abstrak mengenai hal yang sedang dibicarakan dibawa ke otak, kata-kata yang tepat dipilih, dan kata-kata ini disusun dengan urutan yang benar. Kesemuanya ini harus terjadi supaya pemikiran aslinya dapat disampaikan ke orang lain.

Frank Guenther dari Universitas Boston University mengatakan, "Bicara adalah benar-benar sebuah gerakan motorik yang paling rumit yang dapat dilakukan."5 Guenther menyatakan bahwa dalam berbicara otak mengontrol lebih dari 100 otot di wajah, tenggorokan, dada dan abdomen, serta memastikan semuanya berlangsung secara spontan tanpa kita perlu berpikir. Guenther menggambarkan bagaimana kata-kata dengan lima suku kata, termasuk sebelas fonem, membutuhkan kurang dari sedetik untuk mengatakannya. Terlebih lagi, kita kita tidak perlu merisaukan otot yang mana yang menegang dan mengendor saat berbicara. Bicara adalah sebuah keajaiban.

Dalam mencari penjelasan Darwinis tentang asal-usul bahasa, Discovery Channel juga menjelaskan gosip secara seleksi alam. Setelah menyebutkan bahwa gossip merupakan duapertiga dari percakapan manusia, saluran ini mengatakan bahwa gossip adalah modal, dan orang pertama yang belajar melakukannya mendapat informasi yang dapat diperjualbelikan dengan yang lain, sehingga gossip adalah keuntungan evolusi.

Pendapat tentang gossip ini, tentu saja, sebenarnya tidak lebih dari sebuah khayalan. Selain itu, juga tidak sesuai, karena gossip bukan modal. Jika ya, maka mereka yang menggosip saat ini akan menjadi orang-orang yang paling dihormati di masyarakat.

Penyimpangan Richard Dawkins

Discovery Channel juga memberikan waktu untuk klaim-klaim yang dilakukan Richard Dawkins, seorang Darwinis atheis yang belum bertaubat, yang juga seorang ahli zologi Universitas Oxford. Dawkins menganggap semua bentuk tingkah laku berbudaya (gagasan, isyarat, dll.) termasuk di dalam "meme." Menggambarkan meme sebagai gagasan yang diturunkan dari seseorang yang meniru orang lain, dan menyatakan bahwa dengan cara yang sama gen-gen mengkopi DNA dan menurunkannya dari seseorang ke orang lain, meme yang terdiri dari pikiran dan bentuk perbuatan juga dikopi dan diteruskan dari satu orang ke orang lain. Gagasannya adalah, bahwa persaingan antara gen telah membentuk evolusi biologis, maka persaingan antar meme membentuk pemikiran dan kebudayaan. Dawkins kemudian mengemukakan bahwa meme—contohnya menirukan atau asimilasi—adalah gaya pendorong di balik evolusi manusia.

Gagasan yang digambarkan Dawkins dengan konsep meme tentu saja dapat berubah dan berkembang. Misalnya, gagasan dapat didiskusikan dan gagasan-gagasan lain dapat dimasukan. Oleh karena perkembangan kebudayaan itu dapat terjadi. Tambahan lagi, tingkah laku manusia dan tingkah laku manusia lain dapat ditiru. Sampai titik ini, tidak ada yang salah dengan pendapat Dawkins. Kesalahannya adalah menganggap ini merupakan bukti evolusi manusia. Menirukan berhubungan dengan pemikiran abstrak. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, dan menyampaikan, meniru serta mengembangkan gagasan. Menirukan tidak dapat digunakan untuk menghubungkan antara manusia—yang mampu menghasilkan karya seni, mengembangkan teori ilmiah, dan merancang serta mendebat rezim politik—dengan hewan yang sama sekali tidak meiliki kemampuan berpikir abstrak. Alih-alih memikirkan dan menjelaskan sifat istimewa manusia, Dawkins seharusnya menjelaskan bagaimana pemikiran abstrak dapat muncul saat transisi dari hewan ke manusia. Apa yang tidak dapat dijelaskan evolusionis adalah: Bagaimana seekor hewan yang tidak dapat berpikir dan tidak dapat menghubungkan dirinya dengan lingkungannya dapat berubah menjadi manusia yang dapat berbicara dan berpikir serta memiliki kemampuan berpikir dan kecerdasan yang tinggi? Dengan mekanisme evolusi bagaimana perbedaan mental ini dapat dijembatani?

Tentunya, baik Dawkins maupun evolutionis lain tidak meiliki jawaban yang sesuai atas pertanyaan-pertanyaan ini. Karena tidak mungkin menjelaskan pemikiran abstrak dengan mengambil pendekatan materialis, sebagaimana diakui Colin McGinn.

Dawkins sama sekali tidak memiliki bukti bagaimana evolusi dapat menjembatani perbedaan ini, dan pendapatnya benar-benar sebuah khayalan.

"Jika peninggalan budaya bereplikasi sendiri, sebagaimana halnya molekul-molekul DNA, maka teori baru Darwinisme akan muncul"

Tidak ada komentar selanjutnya setelah Discovery Channel mengemukakan gagasan ini. Namun, apakah akumulasi kebudayaan itu dan bagaimana kebudayaan manusia dapat muncul dari replikasi akumulasi ini, harus dijelaskan. Karena itu, pernyataan yang dangkal ini tidak berarti sama sekali di tingkat ilmiah.

Akhirnya, pendapat bahwa terdapat persaingan antar gen dan bahwa persaingan ini membentuk evolusi biologis tidak berlaku dengan adanya mutasi kebetulan. Seperti semua evolusionis, Dawkins telah mengangkat gagasan dogmatis bahwa sejumlah besar informasi yang tersimpan dalam DNA muncul secara kebetulan. Penelitian genetika telah menunjukkan bahwa tidak mungkin mutasi kebetulan dapat menambahkan informsi ke dalam DNA suatu spesies dan merubahnya menjadi spesies lain. Anda dapat membaca mengenai bukti-bukti ilmiah bagaimana mutasi—benteng genetis evolusi—sebenarnya menimbulkan kebingungan dalam teori ini di www.darwinismrefuted.com berdasarkan hasil karya Harun Yahya.

Kesimpulan: Asal Usul Kemampuan Berpikir Manusia Adalah Penciptaan, Bukan Ledakan Dahsyat Evolusi

Manusia sangat tinggi kedudukannya dibandingkan makhluk hidup lainnya. Peradaban yang dibuat manusia menyingkapkan pengetahuan yang luar biasa. Filsafat, kedokteran, universitas, ilmu, teknologi, politik, seni … semua berasal dari kesadaran. Kesadaran, bahasa, dan percakapan adalah konsep yang tidak dapat dijelaskan dengan materialisme. Manusia tdak memiliki hubungan fisik maupun psikologi dengan simpanse. Tidak mungkin menjelaskan ledakan dahsyat pemikiran melalui evolusi, yang tidak dapat memberikan jawaban. Kesalahan besar Darwinisme jelas. Mutasi yang terjadi secara kebetulan tidak mungkin menghasilkan “ledakan dahsyat” ini di otak manusia yang mengarah pada rancangan “paling rumit di dunia”, yaitu pikiran manusia.

Kebenaran yang ditolak para evolusionis dapat dibuktikan: tidak mungkin menjelaskan pemikiran dan kesadaran manusia dalam bentuk materialisme. Atom-atom di otak tidak dapat merasa, mengetahui, atau berbicara. Tidak ada keraguan lagi bahwa sumber pemikiran manusia bukan atom, melainkan ilham dari Rabb kita.

 

NOTES

1- Steven Pinker, Evolution of the Mind, WGBH Educational Foundation http://www.pbs.org/wgbh/evolution/library/07/2/text_pop/l_072_03.html

2- Ruthland Herald, "IBM engineer looks to brain for new technology," April 12, 2003, http://rutlandherald.nybor.com/Archive/Articles/ Article/49517

3- "Brain's method of merging input depends on which senses supply it" http://www.eurekalert.org/pub_releases/2002-11/uop-bmo111902.php

4- Colin McGinn, "Can We Solve the Mind-Body Problem?" Mind, 98 (1989), p. 349

5- "Repeat After Me," Discover, November 2002

 

5 / total 10
Anda dapat membaca buku Harun Yahya Menjawab Tuntas Polemik Evolusi secara online, berbagi pada jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, download di komputer Anda, menggunakannya untuk pekerjaan rumah Anda dan tesis, dan mempublikasikan, menyalin atau memperbanyak pada website atau blog Anda sendiri tanpa perlu membayar biaya hak cipta apapun, selama Anda mengakui situs ini sebagai referensi.
Presentasi| tentang situs ini | Buat homepage Anda | tambahkan ke favorit | RSS Feed
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
page_top
iddialaracevap.blogspot.com ahirzamanfelaketleri.blogspot.com adnanoktarhukuk.com adnanoktarakumpas.com adnanoktargercekleri.com ingilizderindevleti.net